Kaos band underground

“Woi Bintang, pa kabar lu?”
Sontak akupun menengok ke arah suara tersebut.
“Sombong lu sekarang, mentang-mentang udah masuk tipi. Lupa lu sama gue?”  Ucapnya lagi.

Terlihat seorang lelaki sok akrab, berkaos hitam lengan panjang, yang biarpun aku tidak bisa membaca tulisan di kaosnya, tapi kuyakin itu adalah nama sebuah band underground.

Saat itu dia baru saja masuk ke sebuah minimarket dan aku kebetulan sedang membayar belanjaan di kasir. Setelah transaksi selesai, dengan raut muka yang tidak bersahabat, aku langsung menuju pintu keluar tanpa berkata sepatah katapun.

“Lupa lu sama gue?”
Kalimat sapaan dari dia ini begitu terngiang-ngiang di kepalaku.

Aku memang sudah lupa, bahkan tidak ingat kapan terakhir kali bertemu dia, tapi karena pertemuan sialan tadi, mau tidak mau aku jadi teringat kisahku beberapa belas tahun silam. Ya, beberapa belas tahun silam, saat aku menyukai seorang perempuan.

Perempuan yang kusuka ini, sepertinya juga menyukaiku, terlihat dari responnya yang positif, baik saat kami mengobrol via telepon ataupun saat aku datang ke rumahnya. Bahkan teman-temannya pun bilang jika dia menyukaiku, asalkan rambutku mau disisir. Oiya, saat itu model rambutku ala-ala Liam Gallagher, vokalis band Oasis, jadi belum sepanjang yang sekarang.

Di saat itu pula, karena satu dan lain hal, aku sedang akrab dengan lelaki yang tadi menegurku di minimarket. Lelaki yang  umurnya beberapa tahun di atasku, yang sering menjadi tempat curhat-ku tentang perempuan  tadi. Ya pokoknya setiap perkembangan kedekatanku dengan si perempuan, rajin ku- konsultasikan padanya.

“Mas, gw suka deh sama dia, gimana ya?” Tanyaku padanya.

“Deketin aja, gue liat sih elu sama dia cocok. Apa mau gue bantuin?”

Bantuin gimana ya mas? Tanyaku ingin tahu.

“Ya nanti pas ke rumahnya, gue salamin dan gue bilang kalo elu suka sama dia”

“Oiya bener juga” Pikirku dalam hati. Karena memang kakak dari perempuan yang aku suka ini adalah teman dari laki-laki yang biasa kupanggil mas ini dan sudah seperti kakakku sendiri.

Sekian lama berlalu, akhirnya aku merasa, sudah saatnya, untukku menyatakan perasaan pada sang perempuan. Kupersiapkan semua untuk acara penembakan tersebut. Aku menyisir rambutku, memilih baju dan celana yang menurutku (paling) bagus, termasuk menyiapkan sebatang coklat silver queen, yang rencananya akan kuberikan nanti saat ia menerima cintaku.

Selepas azan isha, aku berjalan kaki menuju rumahnya. Ya, aku berjalan kaki sekitar 15 menit menuju rumahnya, karena memang aku tidak punya motor dan sepeda gunung yang biasa menemaniku, lenyap diambil orang saat kuparkir di halaman rumah. Tak lupa selama perjalanan, aku menghafal kata-kata dan kalimat yang akan kuucapkan di depan perempuan itu nanti.

Setelah tiba di depan rumahnya, aku bilang permisi sambil mengetuk-ngetuk pagar .Tak lama keluarlah sang perempuan.

Dia mempersilakanku untuk masuk dan kamipun duduk di bangku ruang tamunya.

“Tumben lu rapihan” Tanyanya sambil tertawa.

Tawa yang malam itu membuat jantungku makin berdegup kencang hingga membuatku makin salah tingkah.

“Gw rapih ya karena pengen nembak elu, Malih” Ucapku dalam hati.

Setelah basa-basi sedikit, akhirnya kuberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku padanya.

“Hei (Kusebut namanya).... gw suka sama elu. Mau ngga sama gw?” Tanyaku penuh harap.

“Hah, maksudnya?

“Iya, gw suka sama elu, mau ngga jadi cewek gw?” Tanyaku lagi.

“Lah, telat lu. Gw udah punya cowok. Lagian bukannya elu lagi deket sama si itu ya?” Jawabnya sambil menyebut nama seorang perempuan.

“Engga kok, gw sama dia temen doang. Kan gw sukanya sama elu”

“Jangan bo’ong ah, ada kok yang bilang sama gw kalo elu sukanya sama dia, bukan sama gw”  Ucapnya dengan nada agak tinggi.

“Udahlah lu sama dia aja, gw udah punya cowok, takutnya ntar dia marah” Ucapnya lagi.

Jujur aku masih belom bisa mengerti apa yang sebenarnya terjadi saat itu.

“Seriusan? Emang cowok lu siapa?” Tanyaku sedikit bingung.

Dia menyebut satu nama, dan seperti yang sudah kalian perkirakan, nama yang dia sebut adalah nama si laki-laki anjing berkaos band underground.

Dengan perasaan bingung, kesal, marah dan dongkol yang bercampur aduk, aku pamit untuk pulang. Bukan untuk pulang ke rumah, tapi ke rumah lelaki anjing yang telah menipuku selama ini.

Kebetulan saat itu, di depan rumah dia ada bapaknya yang sedang menyiram jalanan dengan aer got.. Dia menyapaku ramah dan mempersilakanku masuk. Kemudian dia memanggil anaknya agar menemuiku.

Anaknya ke luar dan menyalamiku. Tanpa membuang waktu,  langsung kutanya apakah benar dia berpacaran dengan perempuan yang kusukai.

“Oh itu, kirain ada apaan”  Ucapnya sambil tertawa.

"Emang iya mas, elu pacarnya dia?" Tanyaku.

Kemudian dia menjawab:

“Haha, udah lama, emang lu gatau?”

“BUANGSAAAAAAAAT !”

Saat lelaki (yang sebenarnya tidak pantas disebut lelaki) ini kutanya kapan mereka jadian, dia bilang sejak sebulan yang lalu, jauh sebelum aku curhat soal si perempuan. Dia sengaja tidak bilang karena takut menyakiti perasaanku.

Jujur aku lebih suka dia berkata apa adanya, tidak ada masalah buatku, karena aku akan tetap berteman dengan mereka, tanpa dendam sedikitpun.

Akhirnya, masih dalam keadaan bingung dan emosi, aku memutuskan untuk langsung pulang. Ayahnya yang saat itu masih di depan rumah menatapku heran.

“Kok cepet banget udah pulang lagi kamu tang?” Tanya ayahnya.

“Iya pak, lagi ada urusan” Jawabku mencoba seramah mungkin.

“Yaudah ati-ati pulangnya ya”

“Ah bacot, anak lu anjing” Ucapku dalam hati.

Aku merasa dibohongi, karena berarti selama ini dia datang ke rumahnya, bukan untuk menyampaikan salam dan membantuku, tapi justru untuk mendekati perempuan yang aku sukai.

Tapi ya sudahlah, yang lalu biarlah berlalu.

Esoknya, kutelepon sang perempuan untuk meminta maaf. Meminta maaf atas tindakanku yang sudah berani menyatakan perasaan. Dia memaafkan dan mengajakku untuk melupakan peristiwa ini. Aku mengucapkan terima kasih, dan di akhir pembicaraan, iseng kutanya kapan mereka jadian, diapun menjawab:

“Baru seminggu yang lalu, kenapa emang?”











Komentar

  1. Akhirnya, masih dalam keadaan bingung dan emosi, aku memutuskan untuk langsung pulang. Ayahnya yang saat itu masih di depan rumah menatapku heran.
    LukQQ
    Situs Ceme Online
    Agen DominoQQ Terbaik
    Bandar Poker Indonesia

    BalasHapus
  2. Yuk Merapat Best Betting Online Hanya Di AREATOTO
    Dalam 1 Userid Dapat Bermain Semua Permainan
    Yang Ada :
    TARUHAN BOLA - LIVE CASINO - SABUNG AYAM - TOGEL ONLINE ( Tanpa Batas Invest )
    Sekedar Nonton Bola ,
    Jika Tidak Pasang Taruhan , Mana Seru , Pasangkan Taruhan Anda Di areatoto
    Minimal Deposit Rp 20.000 Dan Withdraw Rp.50.000
    Proses Deposit Dan Withdraw ( EXPRES ) Super Cepat
    Anda Akan Di Layani Dengan Customer Service Yang Ramah
    Website Online 24Jam/Setiap Hariny

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbedaan itu (tidak selalu) indah. Part 14

Perbedaan itu (tidak selalu) indah. Part 13

Perbedaan itu (tidak selalu) indah part 15