Anjing betina

Baru pertama kali dalam hidup, aku menemukan perempuan yang sombongnya selangit, atau lebih tepatnya angkuh. Ya, kami bertemu di sebuah situs pertemanan, saat kutanya maukah ngobrolnya pindah via telepon atau WA? Dia mengiyakan, kemudian memberikan nomor teleponnya tanpa banyak tanya.

Padahal biasanya, untuk dapat nomor telepon wanita yang baru dikenal itu susah sekali, tapi entah kenapa ini begitu mudah. "Oh, kaya'nya dia suka sama gw, mantap nih!" pikirku saat itu.

Setelah berkali-kali gagal membina hubungan dengan perempuan yang berbeda agama, aku mencoba dengan yang seagama, dan kebetulan perempuan yang baru kukenal ini seagama dan berasal dari suku yang sama denganku, jadi menurutku tak salah untuk mengenalnya lebih dekat.

Dia, sebut saja inisialnya AB (Anjing Betina) berasal dari sebuah provinsi di pulau Jawa, di Jakarta dia bekerja di bank dan kost di daerah Cideng.
Cideng? Sebagai anak yang besar di Bekasi, jangankan tahu daerah Cideng, namanya pun terasa asing di telinga.

"Cideng tuh di Jakarta Pusat" ucapnya.
"Oh di Jakarta Pusat ya? iya-iya" jawabku, walaupun aku tidak tahu itu di mana.

Dia memang memberikan nomor teleponnya, tapi hampir tidak pernah mau mengangkat teleponku, alasannya sibuk di kantor, okelah bisa dimengerti. Malamnya saat sudah pulang kantor, ditelepon juga tidak diangkat, alasannya masih capek baru pulang, sebentar lagi. Tak lama kemudian, saat ditelepon lagi, dia bilang sudah mengantuk, "mau tidur, telponnya besok aja!" ujarnya via pesan WhatsApp. 
Ya Tuhan, dongkol juga dengar alasan yang aneh ini, tapi ya sudahlah.

Setelah beberapa saat berkomunikasi, ya, komunikasi yang sangat tidak asyik dan tidak intens sama sekali, akhirnya kami merencanakan bertemu, belum tahu kapan dan di mana, karena saat itu aku sedang ada pekerjaan di luar kota.

"Nanti dari Jogja mau dibawain oleh-oleh apa?" tanyaku padanya.
"Bawain jodoh aja dong," jawabnya.
"Lho, sama aku ngga mau emang?"
"Makanya ketemu dulu kita!"
"Lah tumben nih si anjing mau ramah, biasanya arogan" pikirku.

Beberapa hari setelah kepulanganku dari Jogja, sekitar jam 7 malam dia ngewasap mengajak bertemu, aku tidak bisa, karena sudah ada janji lebih dahulu dengan teman.
Dia tidak merespon, mungkin dia marah, mungkin lho ya.

Dan ternyata, temanku tidak bisa datang, mungkin 15 menit setelah kubilang tidak bisa bertemu, langsung kuhubungi dia lagi:
"Hei AB, ternyata malam ini temenku ga dateng, jadi kita bisa ketemu, aku siap-siap ke sana ya"

Tak lama AB membalas:
"Udah telat, ini gua udah mau balik ke kosan, makanya jangan jual mahal kalo diajakin ketemu!"

Waw...... dari yang awalnya aku kamu, tiba-tiba berubah jadi gua elu.

Sebagai seorang pria yang sabar cenderung bodoh, aku tidak menyalahkan dia, tapi malah menyalahkan diri sendiri.
"Iya nih, harusnya jangan jual mahal, bilang aja iya, lagian cewek itu lebih penting dari temen, apalagi temen yang suka ingkar janji" sesalku dalam hati.

Di tengah perasaan bersalah, esoknya kuhubungi dia, meminta maaf dan mengajaknya bertemu lagi, dia mengiyakan, biarpun mungkin dengan berat hati.
"Oya, deket-deket sana, tempat nongkrong yang asyik di mana ya?" tanyaku pada AB.

"Deket-deket sana, tempat nongkrong yang asyik di mana ya?" menurutku ini adalah sebuah pertanyaan yang normal dan standar, tidak ada salahnya sedikitpun, tapi apa jawaban dia?

"Bapak Bintang yang terhormat, kalo memang mau ngajak ketemu tuh langsung kasih tau tempatnya, jangan malah perempuannya disuruh mikir mau ketemu di mana"
"Ya Tuhan, salah lagi dah gua" ucapku dalam hati.

Dan seperti biasa, aku yang meminta maaf, biarpun tidak tahu apa salahku.
"Iya maaf, soalnya aku ngga tau daerah sana, makanya aku nanya kamu" ucapku.
"Kalo ngga tau kan bisa gugling, tempat ngopi atau apa gitu di daerah sini" jawabnya ketus
"Iya maaf"
"Kalo udah dapet, baru hubungi lagi!"
Ingin rasanya kumaki perempuan ini dengan kata-kata umpatan dan makian yang sudah aku koleksi sejak kecil, tapi suara dalam diriku bilang jangan, karena bagaimanapun, seorang laki-laki harus menghargai perempuan.

Karena takut mengulangi kesalahan yang sama, akhirnya kupilih yang pasti-pasti saja, sebuah kedai kopi asal negara kafir di sekitar sana, biarpun aku tidak tahu di mana lokasi pastinya.
"Hei, Senin malam ada waktu ngga, di Starbak deket sana mau? Kebetulan Senin besok aku ada kerjaan di Jakarta, pagi dari Bekasi, sore udah selesai" tanyaku via WhatsApp.

Tapi apa jawaban dia?
"Kalo mau ketemu tuh yang niat, emang beneran mau ketemu, bukan karena kebetulan ada kerjaan!".

Dan seperti biasanya, si Anjing Betina ini berhasil menemukan celah untuk menyerangku, dan seperti yang sudah-sudah, akupun kembali meminta maaf, sehingga akhirnya dia mengiyakan untuk bertemu Senin malam, setelah ia pulang bekerja.

Dengan mengendarai Jupiter MX  2005, aku menuju TKP, tidak lupa membawa 1 lagi helm pinjaman, sambil berharap wanita yang akan kutemui nanti, mau untuk diantar pulang.

Setelah sampai di TKP, baru sadar jika aku tidak tahu persis bagaimana rupa perempuan yang akan kutemui ini, karena di aplikasi pertemanan dan di photo profil WhatsApp-nya, dia memasang foto yang wajahnya kurang jelas, dan aku cuma tahu jika rambutnya sepunggung.

Aku mencoba meneleponnya, beberapa kali kutelepon tapi tidak diangkat, bukan apa-apa, takutnya dia sudah sampai dan sudah menunggu lama.

Aku mengambil sebuah tempat duduk kosong dekat pintu masuk, duduk sendirian sambil celingak-celinguk, memperhatikan orang-orang yang keluar masuk dan berharap salah satunya adalah orang yang kutunggu.
"Kalo sampe dia ngga dateng, gw sumpahin bapaknya meninggal dah, biar dia jadi yatim kaya gw!" ucapku dalam hati.

Setelah sekitar 10 menit menunggu, masuklah sebuah pesan darinya
"Nih udah di atas, lantai 2"

Naiklah aku ke atas, tapi di situ banyak sekali orang dan aku tetap tidak tahu yang mana AB. Terlihat ada seorang perempuan berambut panjang, duduk sendiri dan aku berjalan ke arahnya dengan ragu-ragu, takut bila salah orang.
Kemudian dia memberi tanda bahwa benar dia orangnya.

Dia, seorang perempuan berumur 25 an, dengan tiggi sekitar 150-155 cm, parasnya biasa saja, tapi ya tidak masalah buatku.
"Hallo" ucapku ramah, pada wanita yang ternyata sempat bertatap mata denganku dan kusenyumin di bawah tadi, tapi tak mencoba untuk menyapaku.
Kemudian aku menarik kursi di depannya untuk duduk, dan saat merapikan posisi kursi, dia bertanya:
"Mau ngomong apa?"
"Hah, maksudnya?" jawabku bingung.
"Lho, kan kamu ngajak ketemu, trus mau ngomong apa?" tanyanya lagi.

Belum jelas aku dengan arah pertanyaannya, kemudian dia lanjut bicara:
"Kalo gada yang mau diomongin, yaudah, mau pulang aja!"

"Ni orang serius apa bercanda sih?" tanyaku dalam hati. Ya gimana ya, baru juga mau duduk, tiba-tiba bilang mau pulang. Wagelasiiih....

Mungkin dia tidak sreg denganku, tapi tidak masalah, karena akupun tidak sreg dengan perempuan yang bentuknya seperti paspampres Uganda.

Biarpun aku juga tidak sreg dengannya, aku tetap mencoba ramah, karena aku yakin, tidak ada salahnya untuk bersikap baik ke orang lain, dan kalaupun memang tidak berjodoh, kami masih bisa berteman.

Kemudian dia mulai bertanya:
"Kamu berapa bersaudara? Anak keberapa?"
"Tiga, aku anak kedua" jawabku.
"Kakak kerja apa? Adik kerja apa? Mereka sudah nikah? Kamu kenapa belum? Kapan ada kerjaan di luar kota lagi? Trus, selain stand up, kerja apalagi?" tanyanya lagi.

Dia mengajukan pertanyaan bertubi-tubi, mirip interogasi polisi terhadap maling pakaian dalam wanita yang lagi dijemur. Aku tidak tahu, dia seperti itu ke setiap orang atau cuma denganku, jadi dia sengaja untuk membuatku tidak nyaman, agar dia bisa cepat-cepat minggat dari hadapanku.

Setelah kujawab semua pertanyaannya, aku mencoba tetap sopan dan mencoba mencairkan suasana.
"Tadi kutelpon kenapa ngga diangkat?"
"Emang harus banget ya diangkat" jawabnya ketus.
"Hehe, kan kirain kamu udah sampe, takutnya kamu nunggu lama, yaudah kutelpon" jawabku sabar.
"Baru aja kok, kan tadi liat sendiri pas di bawah!"

Dadaku berdegup kencang menahan amarah, tapi berusaha tetap tenang dan mencoba melanjutkan pembicaraan.
"Kamu mau pesen makanan atau minuman apa gitu, biar aku beliin di bawah?" ujarku tetap sopan.
"Engga usah, tadi udah kenyang makan di kantor"
"Oh gitu"
"Jadi mau nanya apa? Kalo emang ngga ada, mau langsung pulang aja nih, udah cape seharian kerja!" ucapnya dengan nada agak tinggi.

Aku menghela nafas, dan karena memang sudah muak dengan tingkahnya, akupun dengan yakin menjawab tidak ada.
"Oh yaudah kalo memang ngga ada!" kemudian dia mengambil hapenya dan terlihat membuka aplikasi ojek online.

Biarpun emosi sudah memuncak karena perlakuannya yang tidak senonoh itu, aku tetap mencoba sabar, dan menawarkan untuk mengantarnya pulang naik motorku.
"Kalo boleh, sini aku anter pulang, kebetulan aku bawa helm 1 lagi" tawarku, biarpun segala umpatan sudah penuh di kepala dan berebut ingin keluar dari mulutku.

"Ngga usah, aku bisa pulang sendiri naek ojek online, lagian kita baru kenal!" dia tetap menjawab dengan ketusnya, sambil melirik aplikasi di hapenya, kemudian menekan tombol ORDER.

"Hah, baru kenal? Lah terus ojek yang lu pesen itu udah lu kenal dari kecil apa gimana?" Tanyaku dalam hati, iya, hati yang sudah diliputi amarah ini.

Terlihat dia merapikan tasnya, bersiap-siap hendak turun, karena katanya si ojek sudah hampir sampai. Biarpun dongkol dengan perlakuannya, tapi aku tetap mengantarnya ke bawah, menemani dia di pinggir jalan, hingga ojek datang, kemudian dia naik dan menghilang di kejauhan.

Aku berjalan menuju parkiran motor sambil berpikir: "Tadi gw ngapain sih? Trus tadi yang gw anterin naek ojek itu orang apa bukan sih? Kaga jelas banget!"

Jujur, aku adalah orang yang tidak pernah mempermasalahkan fisik orang lain, karena sadar, aku juga bukan orang yang bagus-bagus banget, tapi untuk dia, pengecualian!
"Tu orang apaan sih, cakep kaga, tapi kok sombong? Yaelah, betis kayak Drogba aja belagu!" pikirku sambil emosi.
Padahal jika dibandingkan dengan mantan pacarku terdahulu, dia tidak ada seujung kukunya, seorang pramugari cantik, tinggi anggun, sopan dan murah senyum ke semua orang. Bedanya bagai langit dan bumi.

Yaelah kan, jadi ngomongin mantan :(

Sesampainya di rumah, biarpun dengan berat hati, kukirim permintaan maaf lagi padanya, entah maaf keberapa untuk kesalahan yang tidak kuperbuat. Aku meminta maaf jika punya kesalahan yang membuatnya bete, dan jika dia tidak keberatan, sebagai bentuk permintaan maaf, mengajaknya bertemu kembali di tempat yang sama, kubelikan dia minuman, makanan atau apapun itu, setelah itu aku pergi dan tidak akan mengganggunya lagi.

Kalian tahu jawaban dia apa? Tidak ada, karena dia tidak membalas pesanku hingga saat kalian membaca tulisan ini.

Bekasi 19 Nov 2018.


Komentar

  1. Lain kali jangan sendirian bang, bawa tukang pukul gitu.

    BalasHapus
  2. untung aja bang bintang orangnya sabar cenderung bodoh wkwkwk

    BalasHapus
  3. Sabar banget sih ngadepinnya. Jagoan.

    Aku yang baca aja bete parah.

    BalasHapus
  4. Penasaran ama identitas dan penampilannya. Ga mau dishare aja? Supaya ga ada korban lain gitu...

    BalasHapus
  5. Kejadiannya sama persis seperti pengalaman saya, tapi saya inisiatif pas ketemu saya pura pura ke toilet dan langsung tinggalin tuh orang. bodo amat.

    BalasHapus
  6. Ya ampuunn tuh cewek maunya apa sih..
    Belagu banget kaya orang miskin mendadak kaya..

    BalasHapus
  7. Kedai kopi asal negara kafir ��

    BalasHapus
  8. ya Allah bang, banyak sabar aja ya bang, semoga Tuhan memberikan jodoh yang terbaik untuk bang Bin amin....

    BalasHapus
  9. Kesabaran yg tiada batas, walau dalam hati trjadi kericuhan umpatan yg berdesakan ingin keluar, tp tetap sabar dan malah minta maaf..
    Memang bener bang bintang orang super sabaar cenderung sedikit agak bodoh 😁😂🤣

    BalasHapus
  10. Gua jadi lo gua tonjok aja bang ditempat

    BalasHapus
  11. Pertanyaannya utk cewe modelan gitu mah standar kayaknya, mungkin lo harus nanya yg to the point kayak "cukur kamu dijembt gak?" Atau apa kek

    BalasHapus
  12. iloveyou full mas mas gojek yang udah kenal lama sama tuh cewe wkwk

    BalasHapus
  13. Ini orang kayaknya dimusuhin se gang komplek kayaknya. Kalo lewat depan tongkrongan abang2 ga di godain paling

    BalasHapus
  14. Tertypu profil wasap itu memang sedikit ingin menjerit sih gua juga pernah gitu bang tapi setelah cek barang ternyata barang black market gua tinggalin depan pos kamling tanpa basa basi

    BalasHapus
  15. Dia gatau kalo lu artis apa bang? wkwkw

    BalasHapus
  16. Betis cewe kek drogba, berarti ukuran sepatu nya nomer berapa bang? Hahaha

    BalasHapus
  17. Pria yang sabar cenderung bodoh emang nasib jadi tumbal mak lampir sih. Gokil sih sampe segitunya lo sabar

    BalasHapus
  18. Baru baca horror story mu bang. Tapi follow kok.
    Ngakak baca nya bang (pinter nulis juga). "Kata2 makian yg sudah ku koleksi sejak kecil" mLOL.LOL.LOL.LOL.wkwkwkwk
    Semoga si AB baca ya bang, trus syok.
    bang Bintang jangan overdosis "minta maapnya". Be honest aja bang

    BalasHapus
  19. Harusnya Jangan Anjing Bentina bang , Tapi Tapir Betina Hahah

    BalasHapus
  20. Ooo jadi gini ceritanya bang... :'( sedih banget...

    BalasHapus
  21. Kenapa cerita cewek behel nya dihapus bang?

    BalasHapus
  22. Ini cewek anak geng motor kayanya dah, ngegas mulu bawaanya

    BalasHapus
  23. Yuk Merapat Best Betting Online Hanya Di AREATOTO
    Dalam 1 Userid Dapat Bermain Semua Permainan
    Yang Ada :
    TARUHAN BOLA - LIVE CASINO - SABUNG AYAM - TOGEL ONLINE ( Tanpa Batas Invest )
    Sekedar Nonton Bola ,
    Jika Tidak Pasang Taruhan , Mana Seru , Pasangkan Taruhan Anda Di areatoto
    Minimal Deposit Rp 20.000 Dan Withdraw Rp.50.000
    Proses Deposit Dan Withdraw ( EXPRES ) Super Cepat
    Anda Akan Di Layani Dengan Customer Service Yang Ramah
    Website Online 24Jam/Setiap Hariny

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbedaan itu (tidak selalu) indah. Part 14

Perbedaan itu (tidak selalu) indah. Part 13

Perbedaan itu (tidak selalu) indah part 15