Perbedaan itu (tidak selalu) indah. Part 5

Part 5.

Si cowok terdiam beberapa lama.. kemudian dia memberanikan diri untuk ngomong:
Waduh maaf, aku kirain kamu ngga ada masalah kalo kupegang tangannya, ucap si cowok dengan nada sedikit shock, karena dia tadi minum tebz.
Kasihan dia, wajahnya pucat, minum tebz 2 botol, tutupnya ikut tertelan.

Kak, kita kan baru kenal, kita juga baru ketemu 2 kali, aku belom tau kamu gimana dan kamu juga belom tau aku gimana, masih banyak hal yang kita belom tau satu sama lain.
Jadi, ya aku ngga nyaman aja, ada orang yang belom aku kenal-kenal banget, tapi udah megang-megang tanganku...
Si perempuan coba menjelaskan.

Si cowok meminta maaf, kemudian terdiam lagi.
Dia merasa kaget, karena kemarin-kemarin, bila dapat kenalan cewek-cewek lewat sosial media, saat pertemuan pertama, jangankan cuma tangan, tapi jantung, pankreas serta lambungnya sudah berhasil dia acak-acak.
Dan cewek-cewek itupun saat diacak-acak tidak  pernah marah, justru tertawa, seolah justru meminta diacak-acak bagian-bagian tubuh dia yang lain, padahal hanya dibelikan Richeese nabati.

Tapi perempuan ini yang ada di hadapannya dia saat ini sungguh berbeda, dia memiliki kekuatan untuk memegang kendali dan membuat si cowok ini tidak berkutik.

Si cowok merasa, ini cewek bukan perempuan, maksudnya bukan perempuan sembarangan. Eh, maksudnya dia merasa kalau ini perempuan bukan cewek sembarangan.
Eh gimana, cewek atau perempuan nih? Yang jelas dong, kasihan pembaca jadi bingung !
Ya pokoknya begitu, karena penulisnya juga ikut bingung. Dia bingung campur sedih, karena perempuan yang satu ini agak susah dibohongi, wacer Richeese nabati sudah pasti tidak mempan, jadi minimal harus snack kentang siantar top.
Tahu kan? Yang kalau di warung itu harganya seribu, bentuknya kotak panjang, rasanya agak asin-asin dan di dalamnya ada mangkuk kecil tempat menaruh saus? Nah itu, sausnya dibuang saja, diganti dengan insto !

Setelah situasi agak tenang, mereka jalan berdua beriringan menuju bioskop, tentunya dengan tidak bergandengan tangan, karena jarak diantara mereka minimal 20 centimeter.
Saat berjalan berdua itu, karena itu di tempat umum, mau tidak mau mereka harus bertemu para pengunjung lain, baik yang cuma berpapasan, ataupun harus mata bertemu mata.

Entah kenapa, si cowok merasa seolah-olah semua orang di sana melihat ke arah dia dengan tatapan tajam sambil mencibir & dalam hatinya pada mengejek karena melihat dia berjalan bersama perempuan cantik.

Kasian ya cwenya, kok mau-mauan jalan sama cwo dekil gitu, udah dekil, eh pendek juga, apa kata dunia ?
Pasti diguna-guna tuh ! Atau mungkin orang tuanya si cwe punya utang ke orang tuanya si cwo, nah karena gabisa bayar, anak cwenya dikasihin, buat ganti utangnya.
Dih itu kan si Bintang bete, beda banget aslinya, kalo di tipi keliatan dekil, tapi aslinya kok lebih dekil sekali banget sih ?

Kira-kira itulah kata-kata yang menurut si cowok keluar dari mulut orang-orang yang melihat dia berjalan bersama perempuan cantik. Tapi ya semoga saja dia salah sudah berpikir negatif, karena siapa tahu orang-orang itu sebenarnya ingin mengajak foto bersama tapi malu.

Saat di bioskop, berharap perempuan ini tidak marah lagi, atau minimal bisa mengurangi marahnya, si cowok yang membayar tiket nonton untuk mereka berdua.
Ingat ya, ini cowok yang membayar, bukan yang membelikan.
Soalnya jika dia yang membelikan, bisa saja dia hanya membelikan tiketnya di kasir, tapi memakai uang si perempuan.
Hei, sama saja dong, karena kalau membayar juga sama, berarti si cowok cuma membayar tiketnya di kasir, tapi memakai uang si perempuan.

Lah iya ya? Ah tau ah ! Pokoknya dia beli tiket pake duit dia sendiri. Titik.
Ngerti lu semua ?????
Oke tiketnya pake duit elu, tapi minum & makanan cemilannya gimana?
Oh kalo itu, si perempuan yang beli, haha.

Di dalam bioskop yang gelap gulita, karena memang pemain filmnya kurang dikenal, jadi penontonnya tidak terlalu ramai, masih banyak bangku kosong tidak terisi. Posisi duduk mereka bersebelahan, dan itu pula yang membuat cowok ini salah tingkah.
Ya bagaimana dong, namanya duduk bersebelahan, sedikit banyak tangan mereka pasti bersenggolan, ingin memegang tapi takut ditampar, padahal jika dia mengajak cewek lain yang dikenal lewat sosial media & sudah berhasil dirayu, itu film belum mulai, tapi tali BH sudah lepas satu.

Film yang mereka tonton berjudul Reclaim, kisah tentang sepasang suami istri yang mengadopsi seorang anak, tapi anak tersebut diculik lagi orang dari tempat adopsi tadi. Harusnya sih filmnya bagus, tapi karena tidak boleh memegang tangan, si cowok merasa ngga semangat untuk menonton filmnya.

Setelah selesai menonton, karena memang waktunya agak tanggung & belum terlalu malam, mereka tidak berniat untuk langsung pulang ke rumah masing-masing, tapi hendak ke daerah Panglima Polim di dekat Blok M, ke kios makan milik teman si perempuan tersebut.

Motor kamu di parkir di mana kak? Bawa helm 1 lagi ngga? Tanya si perempuan.
Namanya motor, ya pasti di parkiran motor dong, masa iya di parkiran kapal ferry? Si cowok berkata dalam hati. Iya, dia masih dendam karena ditepis tangannya saat hendak menggandeng tangan si perempuan.
Motorku di parkiran motor, tapi agak jauh dari sini, gapapa ya jalan kaki. Ada helm 1 lagi kok, ada di bagasi motor, jawab si cowok.

Akhirnya mereka berjalan kira-kira 10 menit dari dalam mall menuju ke parkiran motor. Parkiran motornya jauh, ditambah lagi si cowok ini memarkir motornya di ujung, ya semakin tambah jauh. Padahal cuma jalan ke parkiran motor, tapi terasa seperti touring dari Bekasi ke Raja Ampat. Jauh sekali !

Nih helmnya, kamu pake. Ucap si cwo sambil memberikan helmnya pada si perempuanng.
Sebenarnya dia mau membantu untuk memakaikan helm & memasangkan tali helmnya ke kepala si perempuan, tapi dia takut dimarahi lagi, ya akhirnya dia menyuruh si perempuan untuk memakai helmnya sendiri saja.
Oiya, kamu ada masker lagi ngga kak? Tapi yang baru lho ya, bukan yang bekas kamu. Tanya si perempuan.
Ada nih de, ni masih baru. Si cowok mengeluarkan masker berwarna hijau yang bentuknya mirip yang dipakai para dokter di rumah sakit saat melakukan sunat laser.

Setelah membayar parkir, merekapun jalan menuju daerah Blok M, maksudnya naik motor, bukan jalan kaki ke daerah blok M. Karena jalan kaki dari Kemang ke Blok M bisa bikin betis berotot seperti betisnya Ivan Gunawan.
Dengan 'masker couple' mereka naek motor berdua membelah gelapnya malam Jakarta Selatan, motornya terasa ringan karena sudah lunas. Coba kalo masih dicicil, pasti berat !
Motornya memang terasa ringan, tapi si cowok merasa tidak nyaman gara-gara ada sesuatu yang keras mengganjal di bagian belakang tubuhnya.

Jadi, si perempuan ini membawa tas tangan, kecil tapi tidak terlalu kecil juga.
Tasnya masukin aja, muat kok di bagasi, ucap si cowok menawarkan si perempuan untuk menaruh tasnya di bawah jok motor.
Gausah kak, gapapa aku pegang aja.
Saat motor sudah berjalan, si cowok mengira tasnya dipegang, tapi ternyata malah ditaruh di tengah, antara dia & si cowok, jadinya terasa mengganjal di bagian belakang tubuh si cowok.
Yaelah, pengen ngerasain yang empuk & anget, eh dapet yang keras & lancip, kaya balok di kontrakan. Nasib dah nasib.
Ucap si cowok dalam hati.


Bersambung....

Komentar

  1. Gw curiga kok lu bawa masker baru ya?
    Abis dpt tarikan ke daerah kemang emgnya.. Haha

    BalasHapus
  2. Ending nya nasib mulu dahh kasian.. 😂😂😂

    BalasHapus
  3. Yuk Merapat Best Betting Online Hanya Di AREATOTO
    Dalam 1 Userid Dapat Bermain Semua Permainan
    Yang Ada :
    TARUHAN BOLA - LIVE CASINO - SABUNG AYAM - TOGEL ONLINE ( Tanpa Batas Invest )
    Sekedar Nonton Bola ,
    Jika Tidak Pasang Taruhan , Mana Seru , Pasangkan Taruhan Anda Di areatoto
    Minimal Deposit Rp 20.000 Dan Withdraw Rp.50.000
    Proses Deposit Dan Withdraw ( EXPRES ) Super Cepat
    Anda Akan Di Layani Dengan Customer Service Yang Ramah
    Website Online 24Jam/Setiap Hariny

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbedaan itu (tidak selalu) indah. Part 14

Perbedaan itu (tidak selalu) indah. Part 13

Perbedaan itu (tidak selalu) indah part 15