Postingan

Kaos band underground

“Woi Bintang, pa kabar lu?” Sontak akupun menengok ke arah suara tersebut. “Sombong lu sekarang, mentang-mentang udah masuk tipi. Lupa lu sama gue?”   Ucapnya lagi. Terlihat seorang lelaki sok akrab, berkaos hitam lengan panjang, yang biarpun aku tidak bisa membaca tulisan di kaosnya, tapi kuyakin itu adalah nama sebuah band underground. Saat itu dia baru saja masuk ke sebuah minimarket dan aku kebetulan sedang membayar belanjaan di kasir. Setelah transaksi selesai, dengan raut muka yang tidak bersahabat, aku langsung menuju pintu keluar tanpa berkata sepatah katapun. “Lupa lu sama gue?” Kalimat sapaan dari dia ini begitu terngiang-ngiang di kepalaku. Aku memang sudah lupa, bahkan tidak ingat kapan terakhir kali bertemu dia, tapi karena pertemuan sialan tadi, mau tidak mau aku jadi teringat kisahku beberapa belas tahun silam. Ya, beberapa belas tahun silam, saat aku menyukai seorang perempuan. Perempuan yang kusuka ini, sepertinya juga menyukaiku, terliha...

Anjing betina

Baru pertama kali dalam hidup, aku menemukan perempuan yang sombongnya selangit, atau lebih tepatnya angkuh. Ya, kami bertemu di sebuah situs pertemanan, saat kutanya maukah ngobrolnya pindah via telepon atau WA? Dia mengiyakan, kemudian memberikan nomor teleponnya tanpa banyak tanya. Padahal biasanya, untuk dapat nomor telepon wanita yang baru dikenal itu susah sekali, tapi entah kenapa ini begitu mudah. "Oh, kaya'nya dia suka sama gw, mantap nih!" pikirku saat itu. Setelah berkali-kali gagal membina hubungan dengan perempuan yang berbeda agama, aku mencoba dengan yang seagama, dan kebetulan perempuan yang baru kukenal ini seagama dan berasal dari suku yang sama denganku, jadi menurutku tak salah untuk mengenalnya lebih dekat. Dia, sebut saja inisialnya AB (Anjing Betina) berasal dari sebuah provinsi di pulau Jawa, di Jakarta dia bekerja di bank dan kost di daerah Cideng. Cideng? Sebagai anak yang besar di Bekasi, jangankan tahu daerah Cideng, namanya pun tera...

Perbedaan itu (tidak selalu) indah. Part 16

Part 16. Belajar dari kejadian - kejadian sebelumnya, di mana karena keterbatasan kendaraan, dia harus berpisah di tempat yang tanggung dengan perempuan pujaannya, si cowok Bekasi bernama Bintang ini, di pertemuan berikutnya berniat membawa mobil milik ibunya. Dan untuk memastikan segala sesuatunya berjalan dengan baik, dengan berbekal kemampuan menyetir mobil yang seadanya, bahkan bisa disebut amatir, dia membawa mobil milik ibunya ini ke tempat servis AC mobil di dekat rumahnya. Sengaja mencari yang dekat rumah, selain karena belum berani untuk membawa mobil dengan jarak yang jauh, ya takutnya kalo ada apa-apa bisa langsung lari ke rumah. Kondisi AC di mobil milik ibunya kebetulan memang sudah beberapa lama tidak diservis dan dibersihkan, memang masih dingin, tapi tidak terlalu dingin bila dibandingkan dengan kondisi beberapa tahun sebelumnya.   Harus banget ya menservis AC mobil hanya karena ingin bertemu perempuan? Ya sebenarnya tidak juga, dia yakin sang perempuan ti...

Perbedaan itu (tidak selalu) indah part 15

part 15. Setelah selesai makan, mereka berempat berencana untuk pulang ke rumah masing-masing, dengan formasi yang sama dengan formasi  saat berangkat tadi, si perempuan pulang ke Tangerang naik mobil bersama kedua temannya, dan si cowok pulang ke Bekasi naik motor bersama kesendiriannya. Sebenarnya, malam itu si cowok Bekasi ini berharap sekali bisa mengantar pulang perempuan yang diciumnya tadi, dengan motor bebek miliknya. Tapi setelah dipikir-pikir, jika si perempuan naik motornya, justru kasihan, selain cuaca yang agak gerimis dan jarak yang lumayan jauh, ya karena si cowok tidak membawa helm satu lagi, jadi keselamatan si perempuan tidak maksimal. Lagipula, jika tidak memakai helm dan kepalanya terkena gerimis, lalu sakit, bagaimana? Kan pusing pala Barbie ! Ditambah lagi, saat itu, temannya membawa mobil dan pulangnya juga searah, jadi bisa dipastikan pilihan paling bijak adalah si cowok harus 'merelakan' perempuan yang dia suka ini pulang naik mobil bersama kedua...

Perbedaan itu (tidak selalu) indah. Part 14

Part 14. Kamu ngapain kak?   Tanya si perempuan. Si cowok gugup bukan main, wajahnya memerah, bukan memerah karena baru selesai mengikuti acara color run , tapi memerah karena panik. Dia panik saat ditanya apa maksud dari kelakuannya tadi, yang nekat menempelkan bibirnya ke bibir perempuan di depannya ini. Si cowok panik dan hanya bisa terdiam dengan wajah yang masih kemerahan, tapi sekarang sudah agak keunguan , begitupun dengan sang perempuan, masih terlihat diam, setia menunggu jawaban keluar dari mulut si cowok. Sekitar 2 setengah menit mereka terdiam tanpa berkata sepatah katapun, hanya mata mereka saja yang saling tatap, mata si perempuan menatap tajam ke mata si cowok, dan mata si cowok juga menatap tajam, ke arah lain, karena dia bingung tidak tahu harus berbuat apa. Saat mereka saling terdiam dan saling menatap di kesunyian malam itu, lampu taman masih saja belum menyala, entah memang rusak, entah tidak dinyalakan, atau entah memang lampunya dicolong sang penja...

Perbedaan itu (tidak selalu) indah. Part 13

Part 13. Karena kesibukan masing-masing, mereka tidak bisa bertemu selama seminggu. Bagi kalian mungkin seminggu itu hanya sebentar, tapi bagi cowok asal Bekasi ini seminggu terasa lama, seperti setengah bulan dibagi dua. Jadi saat memiliki waktu luang, mereka memutuskan untuk bertemu kembali & kali ini justru sang perempuan yang mengajak untuk bertemu di sebuah studio foto. Lho, kenapa di studio foto? Kenapa bukan di museum atau rumah sakit bersalin saja? Jadi, entah kebetulan atau tidak, si cowok ini mempunyai seorang teman yang kekasihnya seorang perempuan & kekasihnya ini adalah rekan kerja dari si perempuan tadi. Apakah kalian bingung? Jadi begini, si cowok asal Bekasi ini punya teman, cowok juga, yang berprofesi sebagai juru foto, nah si juru foto itu memiliki kekasih, seorang perempuan, yang bekerja sebagai awak kabin di sebuah maskapai penerbangan, nah kekasihnya sang juru foto ini adalah rekan kerja dari perempuan yang sedang didekati oleh si cowok Bekasi ini. G...

Perbedaan itu (tidak selalu) indah part 12

part 12. Si cowok Bekasi ini pulang dengan motornya sambil senyum-senyum sendiri, karena dia merasa, sepertinya hubungan dia dengan sang perempuan cantik yang hendak mambawa kabur helmnya tadi akan berlanjut lebih jauh. Perjalanan pulangnya dari Jakarta Selatan menuju Bekasi, yang jika malam hari memakan waktu 1 jam 30 menit, tapi karena dijalani dengan hati yang riang gembira, kini bisa dia tempuh hanya dalam waktu 1 jam 34 menit. Iya, bertambah 4 menit, dikarenakan harus mampir ke pom bensin & mengisi bensin motornya terlebih dahulu. Dia tahu perjalanan pulangnya ke Bekasi lumayan jauh, tapi tidak harus naik roket seperti yang orang Jakarta sering bilang, karena pakai motorpun bisa sampai Bekasi, jadi lebih baik meluangkan waktu beberapa menit untuk mengisi bensin, daripada nanti kehabisan bensin di tengah perjalanan dan harus mendorong motornya belasan kilometer, bukan tidak mungkin betisnya varises semua atau malahan jari kakinya jadi jempol semua. Di tengah perjalanan...