Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2017

Perbedaan itu (tidak selalu) indah. Part 5

Part 5. Si cowok terdiam beberapa lama.. kemudian dia memberanikan diri untuk ngomong: Waduh maaf, aku kirain kamu ngga ada masalah kalo kupegang tangannya, ucap si cowok dengan nada sedikit shock, karena dia tadi minum tebz. Kasihan dia, wajahnya pucat, minum tebz 2 botol, tutupnya ikut tertelan. Kak, kita kan baru kenal, kita juga baru ketemu 2 kali, aku belom tau kamu gimana dan kamu juga belom tau aku gimana, masih banyak hal yang kita belom tau satu sama lain. Jadi, ya aku ngga nyaman aja, ada orang yang belom aku kenal-kenal banget, tapi udah megang-megang tanganku... Si perempuan coba menjelaskan. Si cowok meminta maaf, kemudian terdiam lagi. Dia merasa kaget, karena kemarin-kemarin, bila dapat kenalan cewek-cewek lewat sosial media, saat pertemuan pertama, jangankan cuma tangan, tapi jantung, pankreas serta lambungnya sudah berhasil dia acak-acak. Dan cewek-cewek itupun saat diacak-acak tidak  pernah marah, justru tertawa, seolah justru meminta diacak-acak bagia...

Perbedaan itu (tidak selalu) indah (4)

part 4. Di kejauhan, terlihat seorang perempuan sedang mengobrol dengan seorang cowok, perempuan itu duduk manis di sebuah kedai kopi yang terlihat mewah, yang berisi orang-orang yang kelihatan berduit. Perempuan yang giginya terlihat putih & rapih karena sehabis dari dokter gigi itu, duduk dengan segelas kopi di depannya, yang penulis yakin isinya bukan top coffee. Ngapain sih kak kamu lari-lari, sampe keringetan gitu? Sini, duduk sini. Mau pesen apa? Tanya si perempuan pada cowok di depannya. Ya aku lari buru-buru, kan ngga enak kalo kamu nunggu lama, jawab si cowok. Cowok yang diajak ngobrol itu, seorang cowok tambun dengan rambut sebahu, agak berantakan, dengan badan berkeringat karena habis berlari-larian dari parkiran motor. Si cowok tambun ini, biarpun sudah berlari, tapi tidak bisa cepat sampai, bisa dilihat dari perutnya, agak maju karena kebanyakan makan mie instan dan gorengan. Sebentar, cowok tambun itu maksudnya gimana? Cowok yang asalnya dari tambun, atau co...

Perbedaan itu (tidak selalu) indah (3)

Part 3. Fix, ini gw de javu untuk kesekian kalinya, de javu diboongin sama cwe, kata si cowok sambil mengumpat dalam hati. Umpatannya kali ini tidak nyebut alat kelamin pria, tapi diganti dengan nama-nama binatang: kuda laut, trenggiling, lumba-lumba hidung botol, burung cendrawasih & zebra cross ! Udah 2 jam gada kabarnya, trus dihubungin ngga bisa-bisa, apa namanya kalo bukan diboongin? Dia pasti ngga akan dateng ! Gw balik aja dah ke Bekasi, ngapain juga gw di sini ! Dengan perasaan emosi & kondisi perut kenyang karena banyak makan, akhirnya si cowok memutuskan untuk keluar mini market & saat melewati kasir, dia melihat sesuatu yang cukup mengganggu pikirannya. Iya, dia melihat beng-beng. Hati boleh panas, tapi stamina harus tetap dijaga. Mba, beng-beng dua ! Setelah membayar, dia berjalan menuju tempat motornya diparkir, dan tentu saja sambil ngunyah beng-beng. Saat sedang bersiap-siap, dia membayangkan adegan seperti di FTV, yang si perempuan tiba-tiba datang,...

Perbedaan itu (tidak selalu) indah (2)

Part 2. (Supaya tidak bingung, bisa dibaca dulu part 1 nya) Dini hari itu, seorang cowok yang hatinya terluka setelah dibohongi perempuan untuk kesekian kalinya, ditemani segelas kopi susu sachetan yang kebanyakan air, terlihat duduk sendirian di depan televisi yang remotenya hilang entah kemana, dia tidak tidur tapi sibuk bermain handphone, membuka aplikasi twitter, mengecek mention masuk sambil melihat-lihat, siapa tahu dari sekian ribu followernya, ada perempuan yang bisa dikibuli, atau 'dimodusin' jika meminjam istilah anak jaman sekarang, apalagi jika perempuan follower tadi tinggal di kos-kosan campur atau rumahnya sering kosong. Mantap ! Iya, cowok ini kalau berniat mendekati perempuan yang tidak untuk diseriusi sering berhasil, tapi jika mendekati perempuan yang sungguh-sungguh dia suka, hampir selalu gagal, entah kenapa, susah sekali. Sepertinya beliau kena karma. Yaelah... ((( beliau ))) Nah, saat sedang asyik mencari 'korban' di twitter, tiba-tiba ad...

Perbedaan itu (tidak selalu) indah (1)

part 1. Berawal dari obrolan di sebuah situs perkenalan, seorang cowok, yang tidak terlalu lucu tapi terlahir tampan, dengan senyum licik & penuh dusta, nekat menyapa seorang perempuan di seberang sana... Hai namaku Bintang, rumahku di Bekasi . Eh iya, kan kamu ngga nanya ya? Maaf ya.. Maaf.. Tanpa disangka, sapaan cowok tadi berbalas: Hehe... ini kak Bintang yang stand up comedy ya? Coba dong kak stand up... Si cowok berbicara dalam hati: Yaelah, ni cwe ngapain sih, baru kenal udah nyuruh-nyuruh stand up, kaga jelas banget ! Tapi dia menyembunyikan perasaan kesalnya dan tetap menjawab sapaan perempuan tadi: Hehe iya de, aku Bintang yang itu, tapi susah kalo lewat telpon, lagian juga ngga dibayar, tambah susah ! Dia memanggil perempuan itu dengan sebutan 'de' dari kata 'adik' karena selain perempuan itu berumur lebih muda beberapa tahun, juga karena perempuan tadi memanggil dia duluan dengan sebutan 'kak'. Sebenarnya, saat cowok ini menyapa...

Merekam comic tanpa ijin itu merugikan comicnya. Kok bisa?

Tak bisa dipungkiri, banyak comic mendapat penghasilan dengan tampil standup di TV, off air ataupun bikin show sendiri. Salah satu modal comic untuk membuat penonton tertawa adalah materinya & ngga sedikit comic, termasuk gw, yang keberatan untuk direkam oleh penonton saat membawakan materi, baik di open mic, show sendiri ataupun job off air. Terus, apa hubungannya? Kok merekam comic bisa merugikan comic tersebut? Yuk kita bahas satu-persatu. *OPEN MIC* Sedikit gambaran, open mic adalah ajang latian, sekali lagi, ajang latian, baik comic yang amatir maupun yang profesional untuk menguji materinya, biasanya di cafe & ngga berbayar, penonton ngga bayar & penampil open mic pun ngga dibayar. Ya karena memang masih latihan, sudah pasti ada banyak comic, termasuk gw, yang ngga lucu, ngeblank, ngga hafal materi, bawa contekan ke atas panggung dan lain-lain, yang intinya masih banyak kekurangan. Bisa dibayangin, saat masih berantakan, eh ada yang ngerekam ...

gitar listrik pertama

Hari itu tanggal 12, gatau hari apa, bulannya lupa & taunnya juga ngga inget, adalah salah satu hari bersejarah buat gw, karena hari itu beli gitar elektrik pertama, iya gw yang beli, tapi emak gw yang ngasih duitnya.   Gitar   itu gw beli 900 ribu, padahal di toko sekitar 3-4 juta. Lho, kok bisa murah? Yaiyalah, ini gitar second & istilah ada harga ada rupa juga berlaku pada gitar ini, dengan harga sekitar   ¼   harga baru, maka kondisinya pun ¼ dari kondisi baru. Biarpun kondisinya ngga asyik, ini gitar tetep gw maenin, ya abisnya gada gitar lagi, sambil berharap kalo punya rejeki, mau dibenerin di tukang servis.   Kondisi ngga asyik itu maksudnya suka bunyi kresek2, suka feedback ( bunyi ngik-ngik kaya anak babi disambit piring kaleng ) dan biarpun volume di gitarnya udah FULL, tapi suaranya masih kecil banget, kaya klakson Vega R 2001 yang akinya soak. Selain itu, steman senarnya suka turun sendiri. Selain itu, banyak bagian-bagian gitar yang me...